Ngomong “Gapapa-Gapapa” Terus, Baik Gak Sih?

Tenang for Gen-Z
3 min readJan 1, 2023

--

Tri Maya Wahyu | PT Tenang Untuk Dunia

Sebenarnya mengalah adalah perasaan baik dan mungkin bisa dibilang wajar di konteks tertentu dengan kuantitas tertentu. Tindakan tersebut dalam masyarakat luas pun diartikan sebagai hal positif. Lain halnya jika menjadi kecenderungan yang kamu lakukan agar orang di sekitarmu senang, sehingga kamu mengabaikan dirimu sendiri.

Pada ilmu psikologi, hal serupa disebut dengan People Pleaser. Pernah denger istilah People Pleaser gak? yap…! Istilah ini mulai popular belakangan untuk menyebut seseorang yang mementingkan kebahagiaan orang lain dan mengesampingkan prioritas pribadi, kebanyakan bilang “gapapa-gapapa”. Menurut para ahli, seorang yang memiliki perilaku atau kecenderungan untuk menjadi people pleaser pada umumnya dianggap sebagai orang yang gemar membantu dan baik oleh lingkungannya. Seorang dengan tipe ini dikenal dengan sifatnya yang melakukan baanyak hal untuk membuat orang di sekitar bahagia. Terlihat positif memang, namun perilaku people pleaser yang sudah tidak wajar dapat membuat seseorang merasa stres, tertekan secara emosional, dan cemas berkepanjangan.

Bukan tanpa alasan, biasanya seseorang yang melakukan hal tersebut memiliki latar belakang atau penyebab, beberapa diantaranya meliputi:

1. Memiliki rasa empati yang tinggi

Dalam beberapa situasi, sisi empati yang tinggi ternyata menimbulkan kecenderungan tidak baik. Seseorang akan sukar membedakan apakah benar-benar perlu dibantu atau hanya dimanfatkan saja.

2. Menjaga perasaan orang lain

Menjaga perasaan orang lain tidak harus dengan mengorbankan diri-sendiri. Jika memang permintaan bantuan akan memberatkanmu, tidak perlu sungkan untuk menolak dan mengatakan tidak.

3. Menganggap masalah orang lain lebih serius

Kaca mata serius sebenarnya sangat relative, sebaiknya kita dapat melihat suatu masalah lebih jauh lagi agar dapat memastikan bahwa oran tersebut benar-benar butuh bantuan atau hanya mengambil celah karena ada orang lain yang bisa menyelesaikannya.

4. Menunjukan kemampuan yang dimiliki

Terkadang menahan untuk tidak menunjukan apa yang kita bisa adalah hal yang sulit. Kadang-kadang kita juga memiliki kebutuhan ego seperti memerlukan validasi kemampuan yang kita punya. Akan tetapi tidak jarang dari hal tersebut kita akan dimanfaatkan olh orang lain.

Berdasarkan penyebab di atas, dampak yang ditimbulkan dari kepribadian People Pleaser adalah:

1. Urusan pribadi kacau

Ya, tentu saja, karena sibuk mengutamakan kepentingan orang lain, seseorang akan lalai memprioritaskan diri sendiri. Sehingga banyak masalah pribadi yang dikesampingkan dan alhasil berantakan.

2. Muncul masalah jika menolak dan mengatakan tidak

Kebiasaan mengiyakan atau mengatakan tidak apa-apa seseorang akan merasa terus-menerus merasa tidak enak jika harus mengatakan tidak. Ini menjadi racun yang menghambat kebahagiaan.

3. Tidak menghargai diri-sendiri

Di samping itu, tendensi memprioritaskan orang lain menjadikan seseorang tidak menghargai diri-sendiri, mengabaikan yang dirasakan, dan menganggap semuanya akan baik-baik saja.

4. Disepelekan

Disepelekan merupakan tindakan yang sangat buruk. Mereka akan cenderung mengabaikan apa yang kamu rasakan asalkan kebutuhan mereka terpenuhi, selebihnya mereka menganggap bukan urusannya.

Nah untuk mengontrol kemungkinan negatif yang muncul bagaimana membatasinya?

1. Tetap berbuat baik tetapi mulai pilah-pilah

Idealnya, berbuat baik bukan hal yang harus dihilangkan. Tetapi di sini ada baiknya kita mulai memilah, melihat mana yang benar-benar perlu dibantu.

2. Mengutamakan dan mulai mengidentifikasi prioritas diri

Pentingnya mengidentifikasi priorotas diri agar tidak terjebak pada sesuat yang merugikan diri sendiri atau bahkan memberikan dampak buruk ketika kita abai dengan hal tersebut.

3. Menolak tanpa menyinggung dan memberikan pengertian yang jelas

Menolah adalah hal wajar, akan tetapi menolak juga ada etikanya. Jika kamu keberatan dan memang mrasa tidak bisa membantu, kamu bisa menolak dengan baik dan memberikan alasan yang masuk akal. Dengan demikian, orang disekitarmu akan lebih memahami keadaanmu.

4. Memberikan alternatif bantuan sebisamu

Jika dirasa bantuan yang diminta kapadamu tidak bisa kamu berikan. Cobalah memberikan alternatif lain sesuai kmampuanmu tanpa mengganggu prioritasmu. Orang yang meminta bantuan akan senang dengan hal seperti ini karena mungkin hal-hal tersebut tidak terpikirkan sebelumnya.

Begitu ya teman Nesya, ngomong gapapa-gapapa terus kadang bikin diri kita sendiri nggak sehat lho, pelan-pelan gapapa kok.

--

--

Tenang for Gen-Z
Tenang for Gen-Z

No responses yet